Senin, 06 Desember 2010

Eyang Memelukku Sambil Menangis

Cerpen oleh : Yessi Greena W Purba

Akhir pekan pasti selalu seperti ini, mobil-mobil terparkir di halaman rumah Eyang yang luas. Kemudian di ruang tengah akan terlihat anak-anak kecil yang sedang bercengkerama dengan seorang lelaki tua yang masih tampak kuat dan sehat, Eyang Raka, begitu aku memanggilnya. Anak kecil yang jumlahnya ada tujuh orang itu sepertinya berebutan untuk mendapat perhatian Eyang, mereka melompat-lompat, tertawa, teriak-teriak dan melompat ke pangkuan Eyang. Di ruang depan pasti ada tiga orang laki-laki berusia sekitar 30-40 an tahun, sedang duduk santai sambil bercerita tentang apa saja. Di dapur ada perempuan yang sedang memasak sambil ngobrol dengan Eyang putri, sedang yang lain ada di taman belakang rumah sedang memperhatikan tanaman bunga yang sedang mekar.

Eyang Raka punya tiga orang anak laki-laki, ketiganya sudah menikah. Anak pertama bernama Dani, dia seorang pejabat di sebuah departemen, menikah dengan seorang dosen cantik dan kini sudah punya tiga orang anak. Anak kedua namanya Rendi, seorang dokter, menikah dengan seorang wanita karir dan sudah punya dua orang anak. Dan yang satunya lagi adalah Angga, seorang pengusaha sukses yang punya istri cantik dan dua orang anak yang sangat menggemaskan. Jadi Eyang Raka punya tujuh cucu, delapan kalau ditambah aku. Dan punya tiga anak, empat kalau ditambah ibuku.

Aku tidak pernah bisa bergabung dengan mereka, entah mengapa aku seperti merasa lain. Padahal mereka sangat baik, ramah dan sepertinya sayang padaku. Om Dani misalnya, dia selalu membawa mainan baru untukku. Om Rendi juga, Om Angga juga. Tapi entah mengapa, sepertinya aku merasa asing dengan mereka. Dan belakangan baru kusadari aku tidak menyukai kehadiran mereka. Akhir pekan menjadi hari yang sangat kubenci. Kalau bisa akhir pekan ditiadakan, apalagi hari libur. Hari-hari terasa sangat lambat kalau ada mereka. Rumah jadi ramai, ribut, berisik dan yang pasti Eyang Raka tidak punya waktu untukku.

“Sesekali ikut ke Jakarta yuk, Mas. Kamu kan belum pernah ke rumah,” ujar Tante Hani – istri om Rendi ketika mereka hendak berpamitan pulang.

Aku tak menjawab, hanya menunduk dan kemudian sembunyi di belakang Eyang Raka.
“Dimas biar disini saja, nemenin Eyang,” ujar Eyang Raka sambil mengacak rambutku. Sementara Eyang Putri sedang asik berpelukan dengan menantu dan cucu-cucunya.

Hanya beberapa menit kemudian, mobil-mobil itu sudah hilang dari pandangan. Eyang Raka dan Eyang Putri masih berdiri sambil melambaikan tangan, tapi aku segera masuk ke dalam rumah yang masih berantakan.

“Bahagia sekali ya, Pa melihat anak-anak kita,” terdengar suara Eyang Putri, mereka sudah duduk di teras depan.
“Cucu- cucu kita lucu-lucu ya," itu suara Eyang Raka
“Tapi mereka masih kecil-kecil, dari tujuh orang yang paling besar baru kelas empat SD. Mama takut tidak sempat melihat mereka tumbuh besar seperti ayah-ayahnya.”

Aku menunduk sedih, tujuh? Bukannya delapan, yang? Dan lagi, aku kan sudah besar yang? Sebentar lagi aku sudah masuk SMP? Apa Eyang lupa kalau aku juga cucu Eyang?

“Dimas kan sudah besar, sebentar lagi dia masuk SMP.” Itu suara Eyang Raka. Setelah itu tidak ada suara, akupun kemudian beranjak pergi. Masuk ke kamarku, mencoba membaca buku walau pikiranku melayang entah kemana.

Eyang putri sepertinya tidak menyukaiku, terasa sekali dia membedakan aku dengan ketujuh cucunya yang lain. Dulu aku tidak tahu apa salahku, tapi akhirnya pertanyaan itu terjawab lewat cerita mbok Inem, orang yang dari dulu ikut Eyang untuk bantu-bantu di rumah. Selama ini juga aku merasa aneh, karena teman-temanku pasti tinggal bersama ayah dan ibunya. Kalaupun tinggal di rumah Eyang, pasti sesekali ayah dan ibunya datang. Tetapi tidak dengan aku.

Ternyata kehadiranku tidak pernah diharapkan, dulu ibuku hamil di luar nikah. Waktu itu ibu belum genap setahun masuk kuliah di kota. Kekasihnya mau bertanggungjawab tapi Eyang Raka tidak mau menikahkah ibu. Kemudian lelaki itu diusir waktu datang ke rumah, dan waktu itu Eyang Raka mengatakan padanya bahwa Eyang tidak akan membiarkan ibu melahirkan anaknya. Lalu lelaki itu pergi dan tidak pernah kembali lagi. Setelah melahirkan aku, ibu sakit-sakitan dan kemudian meninggal ketika aku baru berusia empat bulan. Aib yang sangat memalukan itu ternyata telah membuat Eyang Putri sepertinya tidak bisa menerimaku seperti cucu-cucu lainnya. Setidaknya seperti itulah yang kurasakan.

Mengetahui statusku yang seperti itu akupun menjadi berubah pendiam dan agak pemurung. Kadang-kadang aku menangis sendiri di kamarku, cengeng sekali, padahal aku kan anak laki-laki. Sedih sekali rasanya melihat temen-temenmu tumbuh dengan kasih sayang ayah ibu mereka, sedang kau tidak pernah merasakan kasih sayang ayah dan ibumu. Bahkan bertemu pun tidak pernah. Dan yang lebih menyakitkan, kau lahir tanpa ayah. Akupun akhirnya mengerti kenapa Eyang bersikap seperti itu. Dan karena itulah akhirnya aku merasa asing dengan anak-anak Eyang yang datang setiap akhir pekan. Apalagi dengan cucu-cucu nya. Aku merasa tidak berguna dibanding mereka, mereka sangat berbeda denganku. Perasaan itu selalu datang setiap kali mereka datang. Kadang-kadang aku ingin pergi, tapi ke mana aku pergi? Aku juga tidak mau meninggalkan Eyang Raka. Beliau sayang padaku, aku juga sangat menyayanginya. Meski dia kadang kurang perhatian bila cucu-cucunya datang, pancaran kasih sayang dari wajahnya tidak berkurang. Rasa takut pun kemudian muncul di hatiku. Eyang Raka sudah tua, bagaimana nanti kalo beliau wafat?

Seiring dengan berjalannya waktu, akhir pekan yang biasanya selalu ramai pelan-pelan berubah menjadi biasa saja. Kehadiran mereka setiap akhir pekan ternyata sudah tidak bisa dilaksanakan karena kesibukan-kesibukan mereka yang mungkin jauh lebih penting. Lalu mereka hanya datang sebulan sekali, itupun tidak lengkap semuanya. Kemudian mereka sangat jarang datang, hanya ketika lebaran saja dan itu pun cuma sebentar. Dan Eyang pun tampak lebih tua sekarang.

Ketidakhadiran mereka memberi rasa nyaman tersendiri buatku. Seluruh perhatian Eyang Raka hanya untukku, dan Eyang Putri pun sepertinya mulai berubah, kurasa karena hanya ada aku. Ketujuh cucu yang lain sudah sangat jarang datang. Mereka pasti sudah besar-besar. Aku pernah melihat salah satu dari mereka di sinetron yang sedang tayang di televisi.

Tiba-tiba Eyang Putri masuk rumahsakit, kata mbok Inem serangan jantung. Masih kata mbok Inem, Eyang tiba-tiba pingsan setelah mendengar berita tentang anak-anaknya di kota. Tidak tanggung-tanggung, aku saja yang mendengar berita tiba-tiba lemas, padahal aku tidak begitu menyukai mereka. Om Dani ternyata sudah dua bulan ini menjadi tersangka korupsi di departemen yang dipimpinnya, istri dan ketiga anaknya sudah mengungsi ke luar negeri. Berita-beritanya sudah dari dua bulan yang lalu ada di koran dan televisi. Belum cukup hanya Om Dani, Om Rendi juga sedang ribut dengan istrinya dan sedang dalam proses perceraian. Kabarnya mereka sedang berebut harta gono-gini dan hak asuh anak. Dan yang terakhir Om Angga juga mendapat masalah yang tidak kalah peliknya, ribuan karyawannya sudah beberapa unjuk rasa dan mogok kerja menuntut kenaikan upah. Pantes saja Eyang Putri pingsan dan langsung masuk rumahsakit mendengar berita mengejutkan itu.

Kudapati Eyang Raka sedang termenung sambil menghisap cerutunya di beranda belakang rumah. Pandangannya jauh menatap kedepan, aku tahu apa yang sedang dipikirkannya.
“Eyang…,” ujarku ragu takut mengusiknya.
“Duduk sini!” ujarnya sambil menunjuk kursi rotan di sebelahnya
“Eyang putri….?”
“Tidak apa-apa. Eyang baru saja pulang dari rumahsakit, sekarang banyak tetangga-tetangga yang menungguinya.”
“Eyang…,” aku ragu untuk melanjutkan pertanyaanku. Aku ingin tahu tentang om-om ku itu. Tapi ternyata Eyang Raka sudah tahu maksud hatiku.
“Tentang itu Eyang sudah dengar dari awal, makanya Eyang tidak pernah bawa koran ke rumah dan jarang melihat televisi supaya Eyang Putri mu tidak tahu, tapi ternyata bagaimanapun kita menutupinya, pasti ketauan juga. “ terpancar jelas luka yang dalam di wajah Eyang. Kasihan Eyang, mereka kan sudah tua.

“Dari dulu Eyang sudah mengingatkan mereka untuk selalu hati-hati dan selalu memakai hati. Tapi…” Eyang Raka menggeleng-gelengkan kepalanya.

Aku hanya bisa diam dan tahu harus bagaimana.
“Eyang tidak tahu salah dimana mendidik mereka, Mas. Eyang heran kenapa semua anak Eyang bermasalah. Eyang sudah gagal. Sebenarnya kegagalan itu sudah Eyang dapatkan delapan belas tahun yang lalu, saat kepergian Sinta ibumu. Tapi ternyata kegagalan-kegagalan yang lebih besar datang dari anak-anak Eyang yang lain.” Mata Eyang Raka berkaca-kaca, kesedihan menyelimuti wajahnya. Aku hanya bisa menunduk diam.

Tiba-tiba, ”Maafkan Eyang, Mas. Kalau saja dulu Eyang tidak bersikap seperti itu, pasti sekarang kau punya ayah dan ibu. Eyang sudah tua, dengan siapa nanti kau tinggal. Eyang tidak mungkin menitipkanmu pada om-om mu. Eyang tidak ingin kelak kamu seperti mereka.” Eyang memelukku sangat erat, dan…Eyang menangis. Eyang Raka yang selama ini kukenal paling tegar ternyata bisa menangis. Akupun tidak dapat menahan airmataku.

“Maafkan Eyang, le,” diusap-usapnya kepalaku. Penyesalan yang mendalam jelas tersirat di wajah tuanya.

Kesedihan Eyang ternyata lebih pada penyesalan pada sikapnya di masa lalu pada ibuku. Penyesalan itu lebih membebani hatinya daripada berita tentang anak-anaknya yang sedang bermasalah. Tapi benarkan Eyang yang salah? Bukankah ibuku meninggal karena sakit? Dan itu sudah takdir. Entahlah, aku tidak tahu.

Aku masih menangis, kupeluk Eyang lebih erat. Tiba-tiba aku merasa sangat berharga.***YC
Salatiga, 2005


http://yessigreena.wordpress.com

7 Kupu-kupu Bersayap Ungu


Cerpen Deni oktora


“Kakek, bisa ceritakan aku tentang patah hati?” “Mengapa?” “Karena aku belum tau rasanya patah hati. Sementara banyak dari mereka yang mengakui sudah pernah patah hati.” “Itu karena kamu belum dewasa, mungkin kelak bila sudah dewasa kamu akan memahaminya.” “Tapi terlalu lama bila aku harus menunggu sampai dewasa, bisa kakek ceritakan sekarang?” “Baiklah, Kakek akan menceritakan seorang pria yang sedang patah hati.” “Siapa nama pria itu kek?” “Audy” “Lantas siapa yang membuat hatinya patah.” “Seorang gadis yang amat dicintai tentunya.” ** Audy kecil selalu terpikat dengan kupu-kupu yang memiliki sayap keunguan. Di matanya kupu-kupu dengan sayap berwarna ungu memiliki keindahan tersendiri bagi kedua bola matanya yang bulat. Setiap pulang sekolah tak pelak ia selalu menyempatkan diri untuk pergi ke sebuah taman kecil di belakang sekolah. Mencari kupu-kupu bersayap keunguan. Mengamatinya beterbangan mengelilingi bunga-bunga. Dan ketika mereka terbang mengepakkan sayapnya nan keunguan itu lantas audy terperanjat dengan riang seraya berkata Kupu-kupu cantik bawa aku terbang dari sini.

Ketika beranjak dewasa Audy menemukan kupu-kupu itu kembali di sekolahnya. Kupu-kupu itu masih sama dengan seperti yang dulu. Masih cantik. Menawan. Elok. Dan memiliki warna keunguan yang mampu membuat kedua bola matanya mengembang saat dilihat terbang melintas di hadapannya. Kupu-kupu itu kini berwujud sesosok gadis peranakan tionghoa. Namanya Nik-nok. Terdengar aneh mungkin di daun telinga. Tapi percayalah kalau kecantikan gadis itu hampir menyamai kupu-kupu bersayap ungu yang dahulu kerap dijumpainya di taman mungil dekat belakang halaman sekolah.

Bila kupu-kupu yang kerap ia jumpai di taman memiliki keindahan sayap berwarna keunguan layaknya bunga lembayung, maka Nik-nok memiliki keindahan kardigan yang sewarna semburat cahaya senja nan keunguan. Setiap hari Audy mengamati gerak-gerik Nik-nok di sekolah. Di dalam kelas, Audy mengamati wajah Nik-nok dari ujung meja paling belakang sembari senyam-senyum sendiri mirip orang imbisil. di dalam perpustakaan Audy mencoba mengintip wajah Nik-nok dari balik kamus oxford atau buku seri ensiklopedia.

Ia sengaja memilih kedua buku itu karena ukurannya yang besar dan lebar yang dirasa cukup untuk menyembunyikan wajah dungunya. Pun di dalam kantin Audy selalu sengaja memesan Mie ayam mang dayat karena ia tahu kalau Nik-nok suka memesan mie ayam buatan mang dayat dan makan bersama kedua teman-temannya. Biasanya setelah memesan ia masih saja sengaja memilih kursi yang letaknya agak jauh dari Nik-nok (Kadang di belakang). sembari menyeruput Mie Ayam, Audy (lagi-lagi) hanya bisa senyam-senyum sendiri menatap punggung Nik-nok yang terbalut kardigan ungu. Jauh di dalam hatinya Ingin rasanya ia berbisik lembut di daun telinga Nik-nok, Kupu-kupu cantik bawa aku terbang dari sini.

Tujuh hari lagi menuju valentine. Audy terkesiap. Ia sadar kalau tanggal 14 pada bulan Februari di sekolah akan menjadi hari ungkapan kasih sayang bagi setiap kaum pria kepada wanita yang disukai. Entah apakah wanita itu teman sekelas, lain kelas, adik kelas, atau kakak kelas. yang pasti pengungkapan rasa kasih sayang di hari valentine akan meninggalkan makna yang mendalam bagi romantika hubungan percintaan di kalangan para murid. Ditambah sebuah mitos di kalangan sekolah yang meyakini bahwa setiap Pria yang mengungkapkan perasaannya pada wanita yang disukainya tepat pada hari valentine tiba maka niscaya wanita itu akan menjadi cinta sejatinya kelak.

Pak Sitok menjadi buktinya. 12 tahun lalu saat ia menjadi siswa di sekolah ini pernah mengungkapkan isi hatinya dengan cara membaca sajak cinta menye-menye karangannya sendiri saat jam istirahat di kelas dimana wanita itu berada. Wanita itu bernama Dian Ningsih. Dan Kini keduanya telah memiliki dua orang anak lelaki kembar siam yang lucu-lucu, keduanya duduk di bangku TK di sekolah ini jua. Kini keduanya sama-sama mendedikasikan hidupnya untuk mengajar di sekolah ini. Hanya saja Bu Dian Ningsih mengajar Bahasa Indonesia, sementara pak Sitok mengajar Sejarah.

Namun Audy masih setengah hati untuk meyakini kebenaran mitos ini. Karena ia ingat betul nasib sahabatnya bernama Deni. Pria itu, cintanya pernah di tolak tepat di hari valentine oleh gadis berparas manis yang senyumnya serupa untaian kalung permata. Semenjak itu Audy kerap melihat Deni menceracau sendirian di dalam kelas sembari menangis sesegukan. Kadang ia mendapati Deni membaca sajak khalil gibran—yang kesemuanya bertemakan patah hati—dengan lantang di perpustakaan. Di toilet. Bahkan di pelataran parkir motor. Barangkali ia sudah gila. Batin Audy. Tentu Audy tidak ingin berakhir seperti nasib sahabatnya itu.

Di hari valentine, Audy berencana untuk mengungkapkan isi hatinya kepada gadis peranakan tionghoa tersebut. Namun ia tidak akan membeli cokelat atau kartu valentine saat pengungkapan nanti di sekolah. Ia tidak ingin melakukan hal-hal klise seperti para pria kebanyakan lakukan. Maka yang dilakukannya adalah setiap sore menyempatkan diri untuk pergi ke taman mungil yang berada di belakang sekolahnya dahulu saat ia menjejak SD.

Di situ ia mencoba menangkap aneka kupu-kupu bersayap keunguan dengan jaring. setiap hari ia mendapati satu kupu-kupu dengan sayap yang tersaput warna ungu. Ia mengumpulkan total sebanyak tujuh buah kupu-kupu yang kesemuanya di awetkan dan di taruh satu persatu dalam satu barisan untuk kemudian di letakkan dalam bingkai kaca.

Hari valentine berkumandang. Audy sudah siap dengan bingkai kaca yang berisikan 7 buah kupu-kupu bersayap keunguan. Saat jam istirahat tiba. Audy menghampiri Nik-nok. Ia memberikan bingkai kaca itu kepadanya. Gadis itu tersenyum kecil. Matanya yang sipit kian menyipit hingga tampak hanya menyerupai sebuah garis. “Ini, kupersembahkan hanya untuk kamu.” “Terimakasih, kenapa Kamu memberi aku hadiah aneh seperti ini sih?” “Karena kamu secantik kupu-kupu ini.” “Kalau tahu begitu seharusnya aku juga membawa celengan babi kepunyaanku dari rumah.” “Untuk apa?” “Ya, untuk kuberikan kepadamu?” “Kenapa?” “Karena Kamu selucu celengan babi kepunyaanku.”

Audy tersenyum kecil. Ia senang saat Nik-nok mengatakan bahwa dirinya lucu, walau ia sedikit bingung untuk membedakan apakah dirinya yang selucu babi, atau babi itu sendiri yang selucu dirinya. “Apakah kamu mau menjadi pacarku?” “Aku menjadi pacarmu?” “Maukah kamu?” “Kurasa kamu Bukan tipeku Audy.” “Lantas seperti apa tipemu?” “Mungkin yang tidak pendek dan gemuk seperti dirimu.” “Loh, bukannya Kamu tadi bilang aku selucu babi?” “Iya, tapi bukan berarti aku ingin pacaran dengan babi kan?”

Audy terdiam. hatinya jatuh ke lantai. Berdebam. Pecah. berserakan. Belum tuntas ia mengambil kepingan hatinya yang tercecer. Nik-nok mengucapkan sepatah kata. “Anyway, terimakasih ya atas bingkainya..mungkin akan ku pajang di kamarku.” Ucapnya seraya pergi meninggalkan Audy yang masih saja memungut satu persatu kepingan hatinya yang hancur. Audy sedih. Ia berlari dengan linglung layaknya babi yang sehabis ditendang. Ia masuk ke dalam kelas guna mengambil tasnya lalu beranjak pulang. Di dalam kelas ia mendapati Deni yang masih menceracau sambil menangis sesegukan. Apakah aku akan menjadi seperti dia? Tanyanya lirih dalam hati.

Audy di dalam kamar. sedang memandangi dirinya dari cermin yang cukup besar untuk memantulkan citra tubuhnya secara keseluruhan. Dalam benaknya ia berkata Tuhan apakah benar aku mirip babi? Audy percaya bahwa segala sesuatu yang diciptakan Tuhan itu baik adanya. Jadi bila benar ia disamakan dengan babi seharusnya tak menjadikan dirinya kecil hati. Toh babi juga makhluk ciptaan Tuhan bukan? pikirnya. Audy tersenyum. Ia beringsut tidur. Di dalam lelapnya ia masih saja memimpikan tujuh buah kupu-kupu bersayap ungu. Namun jumlahnya tidak lagi tujuh melainkan delapan. Satu diantaranya berparas Nik-nok.

“Sudah malam Nila, Kamu tidur saja ya..esok malam Kakek lanjutkan ceritanya.” “Lantas apa yang terjadi dengan Audy?” “Lihat sudah jam setengah sepuluh malam, Kamu sebaiknya tidur Nila, besokkan kamu sekolah.” “Bisakah Audy mendapati cinta Nik-kok?” “Sudah malam Nila..” “Aku belum mengantuk..ku mohon ceritakan aku hingga akhir cerita.” “Baiklah, tapi ingat sehabis cerita ini kamu sudah harus tidur ya?” “Baik.” Dan sang kakekpun melanjutkan ceritanya. ** Audy sadar kalau dirinya kini harus menjaga hatinya agar tidak rompal kemudian pecah. Karena ia sudah bersusah payah merekatkan setiap keping demi keping patahan hatinya selama enam bulan menggunakan power glue. Ia juga sudah mulai melupakan Nik-nok. Walau kadang ia masih sering memimpikan tujuh kupu-kupu bersayap ungu tersebut setiap malamnya. Bukan, bukan tujuh, melainkan delapan. satu diantaranya berparas Nik-nok, pun kadang ia masih sering terlihat mematut dirinya berlama-lama di depan cermin seraya berkata jauh di dalam hati Tuhan, apakah benar aku mirip babi?

Sepuluh tahun berlalu. Sepuluh tahun merupakan waktu yang cukup untuk merubah keadaan bukan? Namun ternyata ada dua hal di dunia ini yang tidak akan pernah berubah selama sepuluh tahun. Pertama, cinta Audy terhadap Nik-nok belum meluntur sama sekali. Kedua, tubuh Audy masih saja gemuk dan pendek tak ubah layaknya seperti babi. Mungkin ini yang dinamakan abadi. Sebuah rasa yang tidak akan pernah hilang dimakan oleh waktu.

Namun dalam waktu sepuluh tahun rupayanya nasib telah menjadikan Audy sebagai Top manager sebuah perusahaan milik BUMN ternama. Ia memiliki daya analisa yang tinggi sehingga mampu menaikkan profit seluruh kantor-kantor cabang di pulau jawa, Bali, dan Sumatera mencapai 10% setiap tahunnya . hal ini pula yang menjadikan Anggia bakrie sang sekretaris pribadi menaruh hati terhadap sang bos. Namun keadaan semakin rumit ketika samuel sang supir pribadi Audy turut menaruh hati terhadap Anggia.

Audy meminta samuel untuk mengantar Anggia ke sebuah biro tour and travel yang berada di selatan Jakarta guna mengambil tiket pesanannya ke Tokyo untuk menghadiri seminar yang bertajuk how to succeed suppy chain management proccess in the industry manufacture yang tengah diadakan oleh kantor pusat yang berlokasi di Jepang. Perusahaan meminta Audy untuk mengikuti seminar tersebut guna mempelajarinya untuk kemudian mengimplementasikan di perusahaan tempat ia bekerja. “Kamu nanti malam ada acara?” Tanya Samuel kepada Anggia di dalam mobil. “Memang kenapa?” “Kita jalan yuk.” “Jalan, Kemana? aku sibuk.” “Sibuk? Sibuk apalagi? Sibuk ngelayanin bos kamu itu ya?” “Kayanya kamu gak perlu tahu aku sibuk dengan apa deh. Tugas kamu hanya menyupir tok.” “Kecil ya barangnya?” “Hah?” “Maksud kamu.” “Tentu kamu sudah pernah main kan sama bos, gimana barangnya? Kecil ya?” tanya samuel seraya terkekeh.” “Kurang ajar kamu!” Hardik Anggia sembari melempar tas Louis vitton miliknya ke muka Samuel. Mobil pun oleng ke kanan. Lalu kemudian berdecit hingga berhenti. Anggia memutuskan untuk keluar dari Mobil. Berjalan menuju pedestrian dan memanggil taksi. Ia berlari dengan langkah kecil pertanda jijik dengan tingkah laku sang supir. “Bilang saja kalau kecil. Punyaku lebih panjang dan lebar!! Kita coba nanti malam ya! Kamu pasti puas!!” Teriak Samuel dari balik jendela Mobil. Anggia memutar balik badannya lantas mengacungkan jari tengah ke arah Samuel. Samuel hanya terkikik geli memerlihatkan giginya yang kekuningan. Sekuning kaus kaki miliknya yang tak kunjung diganti selama lima tahun. Di dalam taksi. Benak Anggia bertanya-tanya Kecilkah?

Di Tokyo. Di sebuah Hotel bintang lima. Audy membuka Jendela bening besar. berdiri di sebuah balkon kamarnya.tubuhnya telanjang bulat. Dirasakannya angin malam Tokyo yang menampar-nampar kedua pipi tembamnya. Ia melihat ke bawah. Tampak penis mungilnya berayun-ayun di hembuskan angin. Batinnya bertanya Kecilkah?

Di Tokyo. Di dalam Hotel, saat malam merenda, Audy tertidur. masih memimpikan tujuh buah kupu-kupu bersayap ungu. Bukan. Bukan tujuh. Melainkan delapan. satu diantaranya berparas Nik-nok.

Di Jakarta. Anggia sang sekretaris masih saja menunggu kepulangan sang bos dengan hati yang membuncah. Ia tak sabar mengenakan Kardigan ungu yang pernah diberikan oleh Audy di hari Ulang tahunnya yang ke 27.

Di Bekasi. DI rumah kontrakan. Samuel masih memendam hasrat untuk mengajak Anggia sekadar menonton film bersama, atau dinner di sebuah kafe di ujung sudut kota. Sungguh hatinya terpaut dengan Anggia. Ia masih tersenyum setiap kali mengingat Anggia. Dan senyumannya itu selalu memamerkan barisan giginya yang kekuningan. Sekuning kaus kakinya yang tak kunjung di ganti selama 5 tahun. ** Kakek itu melihat cucu kesayangannya ternyata sudah tertidur dengan lelap. Ia menatap wajah cantik nan mungil itu. Mengecup pelan kedua pipinya. Selamat tidur. Bisiknya lembut.

Kakek itu berjalan ke luar rumah. Hari sudah begitu malam. Jam tangan tua di pergelangan kirinya menunjukkan pukul sebelas malam. Tentu bukan jam yang baik untuk para manula berjalan keluar di tengah malam di antara hembusan angin dingin yang menusuk tulang. Namun hatinya terpanggil untuk menjenguk sebuah taman mungil yang dahulu kerap ia datangi saat masih mewujud bocah. Sebuah taman dimana dirinya begitu antusias untuk menyaksikan pertunjukan kupu-kupu saling-silang beterbangan dan mendarat untuk menghisap sari bunga.

Ia menyukai kupu-kupu itu. namun yang paling disukainya adalah kupu-kupu bersayap ungu. Karena kupu-kupu bersayap ungu selalu mengingatkannya akan seseorang yang amat dicintainya. Ah, kemanakah dia? Masihkah dia mengingat kejadian kurang lebih empat puluh lima tahun yang lalu? Saat dirinya memberikan bingkai kaca berisikan ketujuh buah kupu-kupu yang kesemuanya bersayap ungu layaknya semburat cahaya senja yang mulai lindap ditelan malam. Ia tidak tahu. Ia hanya berharap semoga perempuan itu tidak akan pernah melupakannya.

Jauh di suatu tempat. Tampak seorang Nenek yang sedang berdiri. Menatap bingkai kaca. Di dalamnya masih terdapat tujuh buah kupu-kupu bersayap ungu. Ia tersenyum kecil. Pikirannya melambung ke peristiwa empat puluh lima tahun yang lalu.


sumber: kompas.com